Friday, September 23, 2011

The Tree of Life


Film karya Terrence Malick yg baru aja memenangkan penghargaan di 64th Cannes Film Festival berupa Palme D'or ini sebenernya secara cerita sih bagus... casting ok... chemistry dapet... salut buat para pemeran anak2 nya.... terutama tokoh Jack yang ekspresi wajah dan mata nya dapet banget n sesuai dengan cerita

Namun ada sesuatu di dalam film ini yg membuatnya terasa "berat" untuk ditonton, saking beratnya sampe2 beberapa penonton "walk out", sebagian penonton lainnya bertahan tapi mengeluh...

ada keluhan yg menarik dari salah satu penonton yaitu "film ini isinya screen saver semua"....

well, saya gak menyalahkan mereka.... saya sendiri agak kaget kok film Terrence ini jadi sangat ART dan sulit untuk dicerna... berbeda dengan film sebelumnya seperti "The Thin Red Line" atau "The New World"

Kesan saya di 30 menit awal nonton film ini adalah berasa seperti nonton episode2 dari planet earth nya BBC, plus seperti disisipin cuplikan sequel Jurrasic Park terbaru....

Padahal saya pribadi kemungkinan akan lebih enjoy menontonnya bila adegan2 "screen saver" itu dipangkas sebanyak mungkin... yah, disisakan beberapa adegan yg bisa dianggap sebagai metamorfosa dari perasaan/pikiran dari tokoh2 di film tersebut

Hal2 yang bisa saya tangkap dari film ini adalah:
1. Pengaruh kerasnya didikan seorang ayah terhadap pertumbuhan psikologi anak2
2. Anak2 bisa sangat sensitif terhadap permasalahan yang terjadi di antara kedua orang tua nya
3. Anak2 yang terlalu mendapat perlakuan keras, akan menjadi "liar" ketika orang tua yang keras tersebut tidak ada di rumah
4. Pada suatu titik tertentu anak bisa menjadi berontak/berani melawan orang tua yg keras tersebut, dengan diawali oleh sikap atau perkataannya hingga yg lebih ekstrim yaitu keinginan untuk membunuh

kekurangannya dalam film ini menurut saya adalah:
1. kurang didramatisir mengenai "kematian" yang digambarkan begitu dramatis di awal2 film.... bahkan hingga akhir film saya gak ngerti siapa sih yg mati? kenapa matinya? kapan? dll
2. Tokoh jack dewasa kurang di-explore... apakah dia sukses dalam berkarir? sukses dalam berumahtangga? bagaimana kejiwaannya terkait dengan masa lalu nya?
3. Tokoh gadis cilik yg di-taksir oleh jack kecil juga kurang di-explore lebih lanjut

Memang sih untuk ukuran penonton film awam seperti saya ini, film2 yg memperoleh Palme D'or itu selalu berat untuk dicerna.... (sebelumnya saya nonton "the Class (2008)" juga masih terlalu berat buat saya)... mungkin film2 Palme D'or yang bisa saya nikmati hingga saat ini adalah dokumenter Fahrenheit 9/11 (2004), sex lies and videotape (1989), Pulp Fiction (1994) dan Elephant (2003)

No comments:

Post a Comment